This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 28 Maret 2026

“Toraja ; Kematian yang di upacarakan”

 



Ma’badong


Setelah kepulauan Bali, Toraja menempati posisi kedua industri pariwisata Indonesia. Saat ini, di desa-desa Toraja sedang sibuk mempersiapkan upacara Rambu Solo. Gora-gora tonkon terdengar sampai ditempat kami parkir mobil. Apakah para tamu sudah tiba di Lantang Karangpuan?


Orang-orang berjalan pelan berpakaian hitam, kerbau-kerbau berbaris tanpa aturan, sedang Babi menunggu antrian untuk di eksekusi. Ini bukanlah sesuatu yang sadis di karenakan bau amis terasa jelas di indra penciuman kami.


Tamu sudah berdatangan ke upacara Rambu Solo

Darah-darah berjatuhan ditanah, beberapa orang sibuk menyiapkan bir-bir di lantang, sebab para tamu sudah memadati lantang di setiap sisi yang sudah disediakan pihak keluarga.

Saya sedang berada di Tongkonan Malolo, tak jauh lagi dari hulu sungai Salu Sa’dan. Banyak pelayat berdatangan, sedang kami ditemani Novri, pemuda Rantepao yng baru kami kenal malam tadi.


Beberapa orang mengenal Novri, dan mengajak Novri duduk disekitar lantang. Kami tidak berhak menaiki lantang tanpa izin, karena menurut Novri lantang-lantang ini sudah di tempati para tamu undangan. 


Jika di Islam kita sering temui penyembelian hewan itu di setiap idul adha. maka di Toraja pun kita mengenalnya Rambu Solo. Sebanyak 170 kerbau siap di “eksekusi” ini sudah dikatan sarrin bone-bone bangsawan yang sudah lebih dari 100 kerbau.


Di Toraja, Rambu Solo adalah upacara Kematian. Kematian bukanlah akhir dari semuanya. Ia akan selalu dikenang, dan petinya di buka kembali, di bersihkan, lalu pakaiannya diganti. 


Kata Sodara Novri almarhum akan dibuatkan “tau tau” semacam patung & jika bangsawan menhir akan ditancapkan ketanah dengan kokoh. Nene’Limbong juga memvalidasi hal tersebut, Apakah ini jejak peradaban megalitik Austronesia yang masih ada sampai saat ini? 


namun ada juga oknum yang menjadikan ladang bisnis, saat “tau-tau” di curi dan di jual keluar Negeri. Sekitar tahun 1990 di situs penguburan Batu Lemo, sangat marak terjadi pencurian “tau-tau”. 


Menhir-menhir menjulang & kerbau


Matahari berada diatas kepala para tamu berjalan menuju lantang karangpuan, orang-orang berpakaian merah dgn kombinasi sarung hitam bertopi koboi itu disebut ma’badong irama yang terulang dengan bunyi nada “ho..he..ho..”, 


Didepan para tamu ada seorang pengantar yang ditunjuk langsung keluarga sebagai tomadoloan. Dibelakangnya yang sedang memainkan suling & Ma’marakka nyanyian mengenang masa kecil.


Dalam barisan beberapa orang berkulit putih berambut pirang juga ikut dalam barisan tamu, ia mungkin kenal dari keluarga yang adakan upacara ini. Pria di belakangnya lalu menyapa kami, ternyata cucu dari almarhum. Sempat ngobrol namun tak sempat kenalan. Pribahasa yang sering kita dengar “tak kenal maka tak sayang, tak sayang, maka tak cinta” & akhirnya tak tahu.


Tamu sudah menaiki Lantang Karangpuan


Saat para tamu sudah duduk di lantang karangpuan, sebelum berpindah lokasi kami berpose bersama cristian paseru alias novri.



Berfoto dengan sodara Novri


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More