Aku belajar dari setiap Sabda-Mu
Ketika aku berusaha
menerjemahkan Bismillah dengan ketinggian cinta’, teringat bahwa dalam
bahasa arab simbol untuk menyebutkan identitas diri ialah ‘ismun’,
bermakna ‘ketinggian’. Tidak aneh rasanya jika langit yang tinggi itu disebut ‘samaa’.
Dalam al-Qur’an menyebut ‘Asmaa A Kullaha‘, ini merupakan pesan jika
yang Allah ajarkan kepada Nabi Adam adalah tentang ketinggian, hakikat,
filosofis yang tenggelam dalam tubuh semesta. Kita memang tak sejalan dengan
khalil Gibran yang mengatakan bahwa alasan terciptanya kita hanya untuk “Hidup,lahir,
berlalu...”. Kita harus mensejarah, dan mengabdi pada “Tuhan, Alam, dan Manusia”
ternyata aku lupa
bahwa aku belum juga tidur , padahal sudah menuju sepertiga malam. Aku tak
henti berusaha menghayalkan sesuatu dan memohon ampun.
“Tuhan yang maha
besar memiliki kepintaran maha dahsyat, ilmu-nya tak terbatas . walau pohon
jadi pena dan lautan jadi tinta, maka ilmunya tak pernah tergambarkan oleh
apapun.”
Aku tak henti
berkomat-kamit dan bercerita tentang harapan malam ini:
“engkau telah
menuliskan catatan hidupku, aku adalah hamba yang bodoh bukan bodoh tak bisa
membaca ataupun nulis, tapi aku tak pernah merasa punya sesuatu yang banyak
karena aku sadar dan yakin bahwa jasadku adalah milikmu ya Allah, bahwa qolbuku
adalah milik Allah dan untuk-nya, bahwa ruhku milik allah dan untuk-nya, dan bahwa
apa yang kumiliki adalah milik Allah dan
untuk-nya.”
Harapan ialah
sarapan yang baik pada waktu pagi walau menjadi mimpi buruk dimalam hari.
Hendrik
Mahasiwa dari kampus
kehidupan
Mjn, 31/08/22




0 komentar:
Posting Komentar